Pemasaran Online: Pelaku UMKM Makanan Minuman Jogja di Simpang Jalan

Ditengah makin ketatnya persaingan bisnis kuliner di Indonesia, keunikan produk tentunya merupakan nilai lebih yang perlu lebih ditonjolkan. Tanpa adanya keunikan dan kelebihan, bisnis makanan ataupun minuman bakal tenggelam dalam persaingan bisnis.

Apalagi dengan makin berkembangnya teknologi digital saat ini, penguasaan terhadap internet merupakan sebuah keharusan. Pesatnya teknologi digital ini ditandai dengan makin mudahnya orang mengakses internet. Bahkan dengan menggunakan smartphone saja orang bisa mencari informasi apapun yang diinginkannya tanpa lemot ataupun menyita banyak biaya.

Makin banyaknya masyarakat yang melek internet ternyata telah mengubah banyak hal. Jika sebelumnya kita terbiasa membaca koran pagi agar bisa mengikuti update berita terbaru, kini semuanya sudah tersedia di internet. Bahkan kehadiran internet telah menggeser peran surat kabar dan media massa cetak karena masyarakat bisa mendapatkannya dari internet.

Kehadiran internet juga telah memberikan saluran pemasaran baru yang begitu dahsyat efeknya. Perusahaan dan pelaku bisnis pun dipaksa untuk menguasai internet dan teknologi digital agar bisnisnya mampu bertahan atau bahkan berkembang lebih maju lagi. Begitu pun dengan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Keunikan Produk Makanan dan Minuman UKM Yogyakarta

blematika antara kemajuan teknologi digital dan produk UMKM inilah yang sempat tergambar saat mengunjungi “Gelar Produk Makanan dan Minuman Istimewa” di Malioboro, Yogyakarta. Pameran yang digelar selama dua hari, yaitu pada tanggal 3-4 Mei 2019 ini diselenggarakan oleh Dinas Koperasi UKM DI Yogyakarta bekerja sama dengan PLUT-KUKM DI Yogyakarta.

Suasana Pameraan Gelar Produk UKM

Pameran yang diikuti belasan UMKM makanan dan minuman Yogyakarta ini menampilkan beragam produk yang cukup istimewa. Sesuai dengan temanya, jenis produk makanan dan minuman yang ditampilkan pun merupakan cemilan khas Yogyakarta. Ada bakpia, minuman herbal, hingga aneka cemilan keripik.

Memperhatikan produk-produk makanan dan minuman khas Yogyakarta yang ditampilkan para pelaku UMKM tersebut terlihat keunikannya. Seperti yang disuguhkan stand Bakpia Citra. Selama ini kita tentunya lebih mengenal makanan oleh-oleh khas bakpia dengan isi kacang hijau atau ketan hitam. Pelaku UMKM yang berlokasi di Condong Catur, Yogyakarta ini bahkan telah mampu menghadirkan kreasi barunya yang terbilang unik. Jenis bakpa yang masuk dalam kategori premium ini dibuat dengan aneka isi yang kaya rasa. Ada bakpia isi keju, coklat, susu, hingga isi durian, selain isi kacang hijau juga tetap dipertahankan.

Selain jenis isiannya yang makin beragam, Bakpia Citra juga membagi produknya dalam dua kelompok, yaitu jenis yang biasa dan jenis yang premium. Untuk bakpia premium, bahan yang digunakan lebih berkualitas sehingga menghasilkan bakpia dengan cita rasa yang lebih lembut dan enak. Jika bakpia jenis biasa dijual dengan harga Rp 25 ribu perkotak isi 20 buah, bakpia premium dibanderol Rp 45 ribu perkotak dengan isi 15 buah. Sistim pemasarannya sudah komprehensif. Selain dengan membuka outlet sendiri, usaha ini sudah memiliki website sendiri dan media sosial untuk memasarkan produknya.

Pengalaman berbeda dialami produk minuman herbal yang diproduksi Fi-As. Pelaku UKM yang beralamat di Glagah, Umbulharjo Yogyakarta ini memproduksi minuman kunyit asam dan beras kencur. Menurut owner Fi-As, Bu Ninik, saat ini usaha rumahan ini mampu memproduksi minuman herbal sebanyak 80 botol perhari. Apalagi bahan bakunya cukup melimpah.

Minuman tradisional ini telah dikemas dalam kemasan botol siap minum yang menarik. Dengan harga jual Rp 5.000/botol isi 330 ml ini tentunya masih terbilang sangat kecil omsetnya. Jika laku semua pun omset yang bisa diperoleh dalam sehari tak lebih dari Rp 400 ribu. “Belum…belum ada rencana untuk menambah produksi,” kata Bu Ninik saat ditanya keinginannya untuk mengembangkan usahanya.

Untuk pemasarannya, Fi-As selama ini lebih mengandalkan sistim titip jual di jaringan Mirota Kampus. Menariknya, hasil penjualan minuman beras kencur dan kunir asam Fi-As cukup laris. Apalagi Toserba yang memiliki beberapa cabang di Yogyakarta ini memang dikenal sebagai media pemasaran produk-produk UMKM. Tak sedikit pula pengrajin Jogja yang berlangganan dalam menitipkan produknya ke Mirota.

Stand Fira’s Snack

Pengalaman serupa juga dirasakan oleh UKM Melinda dan Fira’s Snack. UKM Melinda memproduksi brownies kukus sedangkan Fira memproduksi bandeng presto dan cemilan dengan brand Akar Kelapa. Daya tahan kedua jenis produk ini relatif singkat, yaitu antara 2 hingga 5 hari saja.

Fira Snack mengaku belum memasarkan produknya secara online karena baru berdiri 2 bulan. Usaha rumahan yang tinggal di Bumijo Yogyakarta ini masih mencari pasar offfline dulu dengan cara titip jual ke beberapa supermarket. Bagi Fira Snack, pemasaran online belum mendesak karena penjualannya dengan sistim titip jual ke berbagai toko sudah mampu menyedot hasil produksinya.

Sedangkan Melinda dalam memasarkan produknya hanya mengandalkan masuknya orderan tanpa melakukan stok dan menitipkan ke toko. “Daya tahan brownies hanya dua hari. Jadi kami hanya mengandalkan pesanan saja,” kata Ayub Suharno, owner Melinda. Dia mengaku belum memanfaatkan pemasaran online karena keterbatasan daya tahan kuenya.

Haruskah Pelaku UMKM Makanan dan Minuman Melek Internet?

Memperhatikan pengalaman beberapa pelaku UMKM di atas muncul pertanyaan yang menarik untuk dicarikan jawabannya: haruskah pelaku UMKM makanan dan minuman Yogyakarta melek internet?

Dari sekitar 58 juta lebih UMKM yang ada di Indonesia saat ini, baru sekitar 8 persen saja atau sekitar 3,7 juta UKM yang sudah menggunakan platform online untuk memasarkan produk-produknya. Nah, untuk lebih menggenjot jumlah pelaku UMKM yang melek internet dan bisa memanfaatkan dunia maya, Kemenkop UKM telah menjalin kerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) dan e-commerce menggagas program yang diberi label “8 Juta UMKM Go Online”.

Namun tampaknya tak semua produk perlu dipasarkan melalui teknologi digital. Aneka rasa produk Bakpia Citra yang keawetannya cukup lama memang sangat membutuhkan pemasaran online untuk lebih menggenjot penjualannya. Apalagi waktu pengiriman produk ke konsumen memakan waktu 3 hingga 7 hari.

Sedangkan untuk produk makanan dan minuman lainnya yang daya tahan produknya tak lebih dari 2 hari tentunya tak akan efektif jika pemasarannya dilakukan secara online. Sebab, produk makanan atau minuman tersebut mungkin sudah busuk ataau kedaluwarsa saat diterima oleh konsumen.

Faktor pemasaran memang merupakan salah satu unsur penting dalam penguatan UMKM. Begitupun dengan penguasaan teknologi digital. Namun agar program pemberdayaan UMKM memberikan hasil yang efektif tak ada salahnya jika pemerintah, khususnya Kementerian Koperasi dan UKM, memberikan prioritas dan selektif dalam memilih pelaku UMKM yang perlu melek internet. Sebab, tak semua pelaku UMKM makanan dan minuman mendesak untuk harus melek internet atau memasarkan produknya secara online. (*)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *